Peristiwa

Jelang Muktamar NU, Kiai Sepuh Desak Kembali ke Khittah, Gus Ali Sentil Konflik Internal

1771
×

Jelang Muktamar NU, Kiai Sepuh Desak Kembali ke Khittah, Gus Ali Sentil Konflik Internal

Sebarkan artikel ini
Gus Ali (kanan) di acara Dialog publik Transformasi-Orientasi Kepemimpinan NU Abad ll di Aula Jaringan Kyai Santri Nasional, Siwalankerto, Surabaya, Rabu (12/8/2026).

SURABAYA, Abahtindik.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), desakan pembenahan internal menguat. Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, meminta muktamar menjadi momentum mengembalikan NU pada khittah, sementara KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali menyoroti konflik dan perebutan pengaruh di tubuh organisasi.

Kiai Asep menilai tiga muktamar terakhir menyisakan persoalan dalam penataan kepemimpinan. Ia meminta regenerasi NU dijauhkan dari kepentingan pribadi yang dapat menggerus marwah organisasi.

“Dalam tiga kali Muktamar terakhir, Nahdlatul Ulama seolah dikendalikan oleh oknum-oknum yang tidak jelas integritasnya dan bergerak berdasarkan kehendak pribadi semata,” kata Kiai Asep di Surabaya, Rabu (12/8/2026).

Menurut dia, NU membutuhkan figur pemimpin yang memiliki kearifan, integritas, dan tetap berpijak pada tradisi pesantren. Pesantren, kata dia, merupakan akar perjuangan sekaligus sumber moral kepemimpinan NU.

Nada kritik juga disampaikan Gus Ali. Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat itu menyentil kecenderungan persatuan NU yang justru menguat ketika menghadapi “musuh bersama”.

“NU iku iso kuat, rukun, nek digolekno mungsuh,” ujarnya.

Gus Ali mengingatkan, persatuan NU semestinya dibangun di atas *mahabbah* atau kasih sayang, bukan karena tekanan dari luar. Perbedaan pendapat, menurut dia, seharusnya dikelola menjadi kekuatan, bukan berubah menjadi pertarungan internal.

Seruan pembenahan ini mengemuka menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Forum tersebut akan menjadi penentu arah kepemimpinan NU memasuki fase lanjutan abad keduanya.

Reporter : Rizqy

Seluruh konten berita di abahtindik.com dilindungi hukum. Dilarang menyalin, mengambil, memproses, atau menggunakan konten—termasuk untuk AI—tanpa izin tertulis dari abahtindik.com.