HeadlinePemerintahan

85 Kursi Bergeser, Titipan Jangan Ikut Menempel

3
×

85 Kursi Bergeser, Titipan Jangan Ikut Menempel

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, ANALISAPUBLIK.ID – Peta jabatan di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali berubah. Sebanyak 85 pejabat administrator dan pengawas resmi dilantik dan diambil sumpahnya oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Lobi Lantai 2 Balai Kota Surabaya, Jumat (2/10/2026).

Komposisinya cukup besar. Dari 85 pejabat tersebut, 13 orang merupakan pejabat eselon III, sedangkan 72 lainnya berada pada jenjang eselon IV.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Surabaya, Ira Tursilowati, menjelaskan bahwa perubahan tersebut mencakup promosi, rotasi, dan mutasi.

Sebanyak 48 pejabat mendapatkan promosi, sementara 37 lainnya mengalami rotasi maupun mutasi. Pergeseran dilakukan antarposisi, termasuk dari kelurahan ke kecamatan, menjadi kepala seksi (Kasi), hingga perpindahan sekretaris kecamatan (Sekcam) ke posisi lain.

“Ada yang bergeser antarjabatan, misalnya dari kelurahan ke kecamatan atau menjadi Kasi di kecamatan. Ada juga Sekcam yang bergeser ke posisi lain. Ini dilakukan untuk mengisi sejumlah posisi yang masih kosong,” kata Ira.

Menurut Ira, penataan tersebut juga memperhitungkan evaluasi kinerja yang tercermin dalam Sasaran Kinerja Pegawai (SKP). Pemkot juga masih melakukan inventarisasi terhadap pejabat yang telah lama menduduki jabatan tertentu.

“Kami akan menginventarisasi pejabat lainnya karena ada beberapa yang akan memasuki masa pensiun. Kemungkinan ada beberapa pejabat yang pensiun pada Oktober dan November, sehingga nantinya akan dilakukan penyesuaian kembali,” pungkasnya.

Di sisi lain, Eri Cahyadi memberikan pesan tegas kepada pejabat yang baru menerima amanah. Ia meminta jajaran birokrasi tidak hanya sibuk dengan urusan administrasi, tetapi berani turun langsung ke tengah masyarakat dan menjalankan aturan secara tegas.

“Ketika saya mengangkat orang-orang baru, maka memastikan mereka berani untuk berbuat kebaikan dengan menjalankan aturan yang sudah kita buat. Harus bisa mengajak orang meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Itu adalah keberhasilan sebuah pemerintahan,” kata dia.

Eri juga menegaskan bahwa perubahan Surabaya tidak hanya bertumpu pada sosok wali kota. Menurutnya, birokrasi menjadi bagian penting karena aparatur pemerintah merupakan pelaksana berbagai kebijakan hingga ke tingkat masyarakat.

“Surabaya berubah karena birokrasi. Karena kalau wali kota kan hanya dirigen saja,” imbuhnya.

Tak hanya meminta keberanian bertindak, Eri juga menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi praktik titip-menitip jabatan. Ia memperingatkan pejabat agar tidak merasa memperoleh posisi karena pengaruh pihak tertentu.

“Ingat, tidak ada dipengaruhi oleh siapapun, dan tidak ada titipan siapapun. Kalau hari ini, ada yang mengatakan saya naik karena itu, saya naik karena ini. Dan nasib kalian gantungkan pada orang itu, dan ketika saya dengar. Maka akan saya copot kalian hari ini,” tegasnya.

Pelantikan ini sekaligus menjadi bagian dari penataan organisasi Pemkot Surabaya untuk mengisi sejumlah posisi yang masih kosong. Eri berharap perubahan komposisi pejabat tersebut membuat roda pemerintahan bekerja lebih maksimal dan kehadiran pemerintah semakin terasa di tengah persoalan warga.

“Dengan mengisi formasi-formasi yang kosong agar pekerjaan bisa maksimal,” ungkapnya.

Reporter: Widodo

Seluruh konten berita di abahtindik.com dilindungi hukum. Dilarang menyalin, mengambil, memproses, atau menggunakan konten—termasuk untuk AI—tanpa izin tertulis dari abahtindik.com.