WONOSOBO | analisapublik.id — Pendakian menuju Puncak Sekawah, Gunung Sumbing (3.371 mdpl), dimulai dari Posko Garung, Kabupaten Wonosobo. Pagi itu, posko dipenuhi aktivitas pendaki yang silih berganti. Ada yang baru turun, ada pula yang bersiap naik.
Petugas melakukan pengecekan logistik dan perlengkapan secara tertib sebelum para pendaki diizinkan melanjutkan perjalanan.
Di antara rombongan yang mendaftar, terdapat Supardi (63), yang mendaki bersama anak, menantu, dan keponakannya. Bagi Supardi, perjalanan ini bukan sekadar uji fisik, melainkan momen kebersamaan keluarga.
Dari Posko Garung, jalur awal langsung menyuguhkan tanjakan berbatu. Medan cukup jelas, namun beberapa bagian licin akibat kelembapan. Rombongan berjalan perlahan, menjaga ritme dan memastikan tidak ada anggota yang tertinggal.

Keterangan Foto:
Supardi (63) bersama keluarga saat melakukan pendakian menuju Puncak Sekawah, Gunung Sumbing (3.371 mdpl) melalui jalur Garung, Wonosobo, dalam kondisi hujan, kabut tebal, dan angin kencang.
Dok. ANALISAPUBLIK.ID
Menjelang sore, mereka memutuskan bermalam di Pos 4, area selter pendakian. Kabut mulai turun, suhu merosot, dan angin berembus tajam. Malam berlangsung hening. Istirahat singkat dimanfaatkan untuk memulihkan tenaga sebelum summit attack.
Pukul 02.00 WIB, rombongan kembali bergerak dari Pos 4 menuju puncak. Medan berubah signifikan. Bebatuan besar dengan kemiringan sekitar 45 derajat mengharuskan pendaki menggunakan tangan untuk menjaga keseimbangan. Setiap pijakan diperhitungkan.
Cuaca tidak bersahabat. Hujan turun disertai angin kencang dan kabut tebal yang menutup pandangan. Gunung Sindoro yang biasanya tampak jelas dari jalur ini tak terlihat sama sekali. Hanya cahaya lampu kepala yang menjadi penuntun langkah.
Puncak Sekawah akhirnya dicapai. Tidak ada selebrasi berlebihan. Rombongan memilih diam sejenak, bersyukur, lalu saling menatap—bahwa mereka tiba bersama.
Perjalanan turun justru menuntut konsentrasi lebih tinggi. Jalur menurun yang licin menjadi ujian tersendiri bagi lutut dan keseimbangan. Setibanya kembali di Posko Garung, petugas melakukan pengecekan ulang sampah dan botol minum yang sebelumnya didata.
Setiap pendaki wajib membawa kembali barang yang tercatat. Tidak ada toleransi bagi yang meninggalkan sampah di gunung.
Pendakian Gunung Sumbing saat ini memang menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda. Gunung kerap menjadi ruang berbagi cerita dan konten digital.
Namun, etika dan keselamatan tetap menjadi prioritas. Pendaki diingatkan untuk tidak memisahkan diri dari rombongan, menjaga barang pribadi, serta berhati-hati dalam bertindak maupun berbicara di jalur pendakian.
Gunung Sumbing memberi pesan sederhana: datang dengan niat baik, patuhi aturan, dan pulang membawa tanggung jawab. Bagi Supardi dan keluarganya, pendakian ini menjadi bukti bahwa usia bukan batas untuk mendaki—selama disiplin dan kebersamaan tetap dijaga.











