SURABAYA – abahtindik.com | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprakirakan awal musim kemarau di wilayah Jawa Timur mulai terjadi pada April 2026. Pergeseran musim ini dipicu oleh kemunculan fenomena El Nino Southern Oscillation yang mulai terdeteksi sejak Maret 2026 di kawasan Samudera Pasifik.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa indikator utama masuknya musim kemarau adalah peningkatan suhu muka laut di Pasifik yang berkaitan langsung dengan fase El Nino. Kondisi tersebut menjadi sinyal awal perubahan pola curah hujan di Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Menurut Taufiq, fenomena El Nino yang muncul saat ini masih dalam tahap awal dan belum dapat dipastikan kekuatannya. Kepastian mengenai apakah El Nino akan berkembang menjadi lemah, moderat, atau kuat baru akan diketahui pada pertengahan tahun 2026 setelah evaluasi lanjutan dilakukan.
Secara klimatologis, awal kemarau di Jawa Timur diperkirakan mulai terjadi pada dasarian pertama April 2026 di sebagian wilayah.
Namun, mayoritas wilayah baru akan sepenuhnya memasuki musim kemarau pada Mei 2026, yang mencakup sekitar 36,5 persen atau setara dengan 27 Zona Musim (ZOM).
BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau akan berlangsung pada periode Juli hingga September 2026. Dari keseluruhan wilayah di Jawa Timur, sekitar 70 persen diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus, yang berpotensi menjadi periode dengan tingkat kekeringan tertinggi.
Dari sisi dampak, BMKG mengingatkan bahwa keberadaan El Nino berpotensi memicu berbagai risiko bencana hidrometeorologi, terutama kekeringan ekstrem, penurunan ketersediaan air, serta peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diminta mulai melakukan langkah antisipatif, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air dan mitigasi kebakaran.
Prakiraan ini menjadi dasar penting dalam perencanaan sektor pertanian, ketahanan pangan, serta pengelolaan lingkungan di Jawa Timur menghadapi perubahan musim yang dipengaruhi dinamika global.
Dok: abahtindik.com
Reporter: Ibnu Aji Sesario
Editor: Respati











