PONOROGO, Abahtindik.com | dikenal sebagai Kota Budaya yang sudah mendapat pengakuan UNESCO untuk kesenian Reyog, serta menyandang predikat Kota Kreatif. Namun sayang, pengakuan bergengsi itu belum diimbangi dengan kebersihan dan penataan wilayahnya.
Salah satu buktinya ada di Jalan Suromengglo atau yang dikenal warga sebagai “Jalan Baru”. Jalan ini dibangun pada masa kepemimpinan Bupati sebelumnya, Markum Singodimejo, untuk melengkapi kawasan olahraga.
Di sebelah utara ada Lapangan Sepak Bola, sebelah timur ada GOR Singodimejo dan Kolam Renang, sebelah barat ada Gedung Bulutangkis. Dengan posisi strategis itu, jalan ini seharusnya menjadi akses utama paling nyaman bagi atlet luar daerah yang bertanding di Ponorogo.
Faktanya? Kumuh.
Setiap melintas, masyarakat justru disuguhi pemandangan tenda dan gerobak PKL yang berantakan. Padahal dulu jalan ini sempat ditutup untuk kegiatan Car Free Day. Saat itu beberapa pengurus PKL berjanji, “Jika habis jualan semua gerobak dan tenda akan dibersihkan dan dibawa pulang”.
Namun janji tinggal janji. Kondisinya justru semakin parah sampai sekarang.
Pemerintah Daerah terkesan tutup mata dan tutup telinga. Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, hingga Satpol PP seperti sengaja membiarkan, atau memang tidak punya kemampuan untuk menertibkan.
“Tempat ini sangat kumuh, jadi tidak nyaman pas olahraga jalan kaki di sini,” ujar Hery, seorang pejalan kaki yang sering lewat.
Ia juga menyindir, “Pemerintah ini agak konyol mas. Bagaimana bisa membanggakan Adipura? Kegiatan bersih-bersih itu adanya cuma kalau ada tamu negara, penilaian Kota Sehat, atau pas mau penilaian Adipura saja.”
Padahal selain akses utama, Jalan Suromengglo juga menjadi tempat favorit warga untuk jogging dan jalan kaki.
Pertanyaannya: sampai kapan Ponorogo yang menyandang predikat Kota Budaya dan Kota Kreatif, membiarkan “etalase” olahraganya sendiri terlihat kumuh? (Hasan)











