HeadlinePemerintahan

Tol Semarang–Demak Jadi Model Tanggul Laut Pantura, Bappenas Dorong Integrasi Penanganan Rob

332
×

Tol Semarang–Demak Jadi Model Tanggul Laut Pantura, Bappenas Dorong Integrasi Penanganan Rob

Sebarkan artikel ini

SEMARANG — abahtindik.com | Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas, Abdul Malik Sadat Idris, meninjau langsung proyek pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 serta penanganan banjir rob di kawasan Kaligawe, Kota Semarang, hingga Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Selasa (7/4/2026).

Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan progres pembangunan berjalan sesuai rencana sekaligus mengevaluasi efektivitas infrastruktur dalam mengatasi persoalan banjir rob yang selama ini terjadi secara berkala di wilayah pesisir utara Jawa (Pantura).

Dalam kunjungan tersebut, Abdul Malik menegaskan bahwa proyek Tol Semarang–Demak memiliki fungsi strategis yang melampaui konektivitas transportasi. Infrastruktur ini dirancang sebagai model tanggul laut (coastal defense) yang mengintegrasikan jalan tol dengan sistem perlindungan kawasan pesisir dari ancaman banjir rob.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap tantangan lingkungan, khususnya di kawasan pesisir yang rentan terhadap kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah.

Secara teknis, peninjauan difokuskan pada Seksi 1 Tol Semarang–Demak yang menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian banjir kawasan Kaligawe hingga Sayung. Wilayah ini selama ini dikenal sebagai titik rawan genangan akibat kombinasi faktor rob, curah hujan, dan kondisi geologis yang kompleks.

Selain mengevaluasi progres pembangunan, Bappenas juga menekankan pentingnya penguatan kajian desain serta metode konstruksi yang sesuai dengan karakteristik tanah di wilayah Pantura. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung rencana pengembangan Giant Seawall di sepanjang pesisir utara Jawa.

Optimalisasi infrastruktur pendukung turut menjadi perhatian, termasuk pengembangan kolam retensi yang tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, Abdul Malik menegaskan bahwa penanganan banjir rob tidak dapat dilakukan secara parsial. Ia menekankan perlunya integrasi antara pembangunan jalan tol dengan sistem pengelolaan sumber daya air (SDA) agar penanganan genangan dapat berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.

“Penanganan di Jalur Pantura Kaligawe, Semarang, dan Sayung harus terintegrasi dengan pengelolaan sumber daya air agar hasilnya optimal,” tegasnya.

Pendekatan integratif ini dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang selama ini memperparah kondisi banjir rob di kawasan pesisir utara Jawa.

Dengan konsep pembangunan yang menggabungkan fungsi transportasi dan mitigasi bencana, proyek Tol Semarang–Demak diharapkan menjadi model nasional dalam pengembangan infrastruktur pesisir yang berkelanjutan.

Sumber: PU Jalan Jateng-DIY
Reporter: Bambang Setiawan, SH
Editor: H. Muhajir Wahyu Ramadhan244

Seluruh konten berita di abahtindik.com dilindungi hukum. Dilarang menyalin, mengambil, memproses, atau menggunakan konten—termasuk untuk AI—tanpa izin tertulis dari abahtindik.com.