Pendidikan

SMKN 7 Surabaya Jemput Sejarah, Siswa Belajar Langsung dari Veteran Operasi Seroja Jelang HUT RI ke-81

1464
×

SMKN 7 Surabaya Jemput Sejarah, Siswa Belajar Langsung dari Veteran Operasi Seroja Jelang HUT RI ke-81

Sebarkan artikel ini
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sidoarjo Dr. Kiswanto, S.Pd., M.Pd., bersama Kepala SMKN 7 Surabaya Rahadi Supratikto, M.Pd., jajaran guru dan siswa saat melakukan anjangsana ke kediaman Kompol Purn. Kaspiyo di Jalan Kalibutuh, Bubutan, Surabaya, dalam gerakan “Murid Menjemput Sejarah: 81 Tahun Indonesia Merdeka”, Jumat (14/8/2026).

SURABAYA, ABAH TINDIK – Pelajaran sejarah bagi siswa SMK Negeri 7 Surabaya kali ini tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, para siswa diajak bertemu langsung dengan veteran untuk mendengarkan kisah pengabdian, kedisiplinan, perjuangan, serta pesan kebangsaan dari pelaku sejarah.

Momentum tersebut berlangsung saat SMKN 7 Surabaya di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Rahadi Supratikto, M.Pd. mengikuti gerakan “Murid Menjemput Sejarah: 81 Tahun Indonesia Merdeka” yang diinisiasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Pada Jumat, 14 Agustus 2026, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sidoarjo Dr. Kiswanto, S.Pd., M.Pd., bersama Kepala SMKN 7 Surabaya Rahadi Supratikto, M.Pd., jajaran guru, dan perwakilan siswa melakukan anjangsana ke kediaman Kompol Purn. Kaspiyo di Jalan Kalibutuh 23C, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi rangkaian kegiatan menjelang peringatan 17 Agustus. Bagi para siswa, pertemuan itu menjadi ruang pembelajaran antargenerasi yang mempertemukan pelajar masa kini dengan seseorang yang pernah menjalankan tugas pengabdian kepada negara.
Siswa Dengarkan Langsung Kisah Pengabdian Kompol Purn. Kaspiyo.

Dalam suasana penuh keakraban, Kompol Purn. Kaspiyo membagikan sebagian perjalanan pengabdiannya kepada para siswa SMKN 7 Surabaya.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Kaspiyo pernah menjalani penugasan dalam Operasi Seroja pada 1975 dan selanjutnya bertugas di wilayah Irian pada 1977.

Kisah tersebut memberikan pengalaman belajar tersendiri bagi para siswa. Mereka tidak lagi hanya membaca sebuah periode sejarah melalui buku pelajaran, tetapi memperoleh kesempatan mendengarkan langsung pengalaman seseorang yang pernah menjalankan tugas negara pada zamannya.

Dari perjalanan pengabdian tersebut, siswa memperoleh gambaran mengenai nilai keberanian, kedisiplinan, tanggung jawab, pengorbanan, serta kesiapan menjalankan amanah.

Kaspiyo juga menitipkan pesan sederhana namun penting kepada generasi muda agar pendidikan dijalani dengan sungguh-sungguh.
Para pelajar diingatkan untuk taat kepada orang tua, menghormati guru, menjaga kedisiplinan, serta tidak menyia-nyiakan kesempatan memperoleh pendidikan sebagai bekal membangun masa depan.

Pesan tersebut menjadi salah satu nilai penting yang dibawa pulang siswa SMKN 7 Surabaya setelah mengikuti anjangsana.

Bagi mereka, sejarah akhirnya tidak hanya berbicara mengenai nama tokoh, tempat, tahun, maupun rangkaian peristiwa. Sejarah hadir melalui pengalaman manusia, pengabdian, ingatan, serta pesan kehidupan yang diwariskan langsung kepada generasi berikutnya.
Rahadi Supratikto Dorong Pembelajaran yang Membentuk Karakter

Keterlibatan Kepala SMKN 7 Surabaya Rahadi Supratikto, M.Pd. dalam anjangsana tersebut sekaligus memperlihatkan komitmen sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi akademik dan keterampilan vokasi.

Pertemuan langsung antara siswa dengan veteran menjadi sarana untuk memperkuat nilai kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan, nasionalisme, dan kesadaran bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab meneruskan pembangunan bangsa melalui bidang yang mereka tekuni.

Bagi sekolah vokasi, pembentukan karakter mempunyai posisi penting karena siswa tidak hanya dipersiapkan menguasai kompetensi teknis, tetapi juga dituntut memiliki etos kerja, integritas, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta tanggung jawab ketika nantinya memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

Dalam konteks tersebut, sejarah menjadi lebih dari sekadar mata pelajaran. Pengalaman para veteran dapat menjadi sumber nilai yang dikontekstualisasikan dengan tantangan generasi muda saat ini.
Dindik Jatim Bawa Pelajaran Sejarah Keluar dari Ruang Kelas

Gerakan “Murid Menjemput Sejarah: 81 Tahun Indonesia Merdeka” digelar pada 12–16 Agustus 2026 dengan melibatkan SMA, SMK, serta SLB di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Melalui gerakan tersebut, sekolah didorong mendatangi veteran, pejuang, maupun keluarga pejuang di wilayah masing-masing.

Para siswa bersama guru tidak hanya datang untuk bersilaturahmi, tetapi juga mendengarkan cerita, menggali pesan, mendokumentasikan pengalaman, serta mempelajari nilai keteladanan secara langsung.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menegaskan, pendekatan tersebut dirancang agar pemahaman siswa terhadap kemerdekaan tidak berhenti pada buku pelajaran, kegiatan upacara maupun cerita di dalam ruang kelas.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal kemerdekaan dari buku pelajaran, upacara, atau cerita di ruang kelas. Kami ingin mereka datang langsung, duduk bersama para veteran dan keluarga pejuang, mendengar kisahnya, melihat keteladanannya, dan memahami bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa,” ujar Aries, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Dalam pelaksanaannya, setiap sekolah juga membawa bingkisan sebagai bentuk perhatian dan penghormatan kepada veteran maupun keluarga pejuang.

Namun, pemberian bingkisan bukan menjadi tujuan utama kegiatan tersebut. Pertemuan antargenerasi dan tumbuhnya rasa hormat serta kepedulian justru menjadi bagian terpenting dari gerakan Murid Menjemput Sejarah.

“Yang paling penting adalah menghadirkan rasa hormat, kepedulian dan terima kasih generasi hari ini kepada para pejuang,” kata Aries.
Dari Perjuangan Masa Lalu Menuju Perjuangan Melalui Pendidikan

Pertemuan siswa SMKN 7 Surabaya dengan Kompol Purn. Kaspiyo sekaligus membawa pesan bahwa setiap generasi mempunyai bentuk perjuangannya masing-masing.

Generasi terdahulu menghadapi situasi dan tantangan pada zamannya. Sementara generasi pelajar saat ini mempunyai tanggung jawab mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, prestasi, karakter, persatuan, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Aries menegaskan bahwa perjuangan generasi muda hari ini harus diterjemahkan sesuai dengan konteks zaman.

“Kami ingin menanamkan kepada murid bahwa mengisi kemerdekaan sekarang tidak lagi dengan mengangkat senjata, tetapi dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, menjaga persatuan, memiliki kepedulian sosial, serta memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan pendidikan vokasi. Bagi siswa SMK, kemampuan teknis dan kesiapan memasuki dunia kerja tidak cukup berdiri sendiri. Kedisiplinan, etos kerja, tanggung jawab, penghormatan kepada orang lain, serta kemampuan menjaga integritas menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang siap menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

Karena itu, kunjungan ke kediaman veteran dapat menjadi jembatan antara pendidikan sejarah dan pendidikan karakter.

Siswa bukan hanya memperoleh informasi mengenai masa lalu, tetapi juga diajak memahami nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan mereka hari ini maupun pada masa mendatang.
Pesan Veteran Direkam Menjadi Warisan untuk Generasi Berikutnya

Salah satu bagian penting dari gerakan Murid Menjemput Sejarah adalah upaya mendokumentasikan pesan para veteran.
Setiap kunjungan diarahkan menghasilkan pesan kemerdekaan untuk pelajar Jawa Timur dalam bentuk video berdurasi satu hingga dua menit maupun tulisan.

Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi rekaman sejarah lokal sekaligus sumber pembelajaran yang tetap dapat digunakan setelah rangkaian kegiatan berakhir.

Menurut Aries, pendekatan tersebut berpotensi berkembang menjadi model pendidikan karakter karena mempertemukan literasi sejarah, penghormatan kepada veteran, kepedulian sosial, serta dokumentasi pengalaman sejarah secara langsung.

“Jika buku mengajarkan sejarah, maka para veteran mengajarkan kepada anak-anak kita tentang harga kemerdekaan,” tutur Aries.

Pernyataan tersebut menggambarkan esensi pembelajaran yang ingin dihadirkan.

Buku tetap menjadi fondasi penting untuk memahami sejarah secara sistematis. Namun, pertemuan langsung dengan pelaku sejarah menghadirkan dimensi manusiawi yang tidak selalu dapat diperoleh siswa hanya melalui teks.
Ada pengalaman, ingatan, nilai kehidupan, dan pesan yang dapat diterima siswa secara langsung dari generasi sebelumnya.
SMKN 7 Surabaya Tanamkan Semangat Jasmerah.

Keterlibatan SMKN 7 Surabaya dalam gerakan Murid Menjemput Sejarah sekaligus menghidupkan kembali semangat Jasmerah atau “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.
Di bawah kepemimpinan Rahadi Supratikto, M.Pd., sekolah membawa siswa mendekat kepada sejarah melalui interaksi langsung dengan veteran, sehingga pembelajaran tidak hanya bertumpu pada teori dan materi di ruang kelas.

Nilai kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua dan guru, semangat belajar, keteladanan serta pengabdian menjadi pesan yang dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Pendekatan tersebut sekaligus sejalan dengan semangat “Jatim Cerdas, Pendidikan Berdampak”, yakni menghadirkan proses pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memberikan pengalaman nyata yang mampu membentuk karakter peserta didik.

Aries berharap setiap siswa yang mengikuti kegiatan anjangsana membawa pulang sesuatu yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan bingkisan yang diberikan kepada veteran.

“Harapan kami, sepulang dari rumah veteran, anak-anak membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang mereka berikan, yaitu cerita perjuangan, keteladanan, semangat pantang menyerah, dan kesadaran bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan melalui pendidikan,” pungkasnya.

Bagi siswa SMKN 7 Surabaya, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan demikian tidak hanya hadir melalui upacara, kibaran Merah Putih maupun kemeriahan perlombaan Agustusan.
Mereka belajar bahwa kemerdekaan juga mempunyai cerita manusia di baliknya.

Cerita tentang pengabdian, kedisiplinan, tanggung jawab, pengorbanan serta pengalaman sebuah generasi yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari kediaman seorang veteran di kawasan Bubutan, Surabaya, pesan tersebut diteruskan kepada para siswa SMKN 7 Surabaya: sejarah harus dikenang, sementara perjuangan generasi muda harus dilanjutkan melalui pendidikan, karakter, prestasi, karya, dan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Editor: H. Muhajir Wahyu Ramadhan

Seluruh konten berita di abahtindik.com dilindungi hukum. Dilarang menyalin, mengambil, memproses, atau menggunakan konten—termasuk untuk AI—tanpa izin tertulis dari abahtindik.com.