ABAHTINDIK.COM | Surabaya – Praktik berdoa agar dikabulkan tidak cukup hanya dengan menyebutkan keinginan. Hal itu disampaikan Subardi, SE saat memberikan penjelasan kepada wartawan ABAHTINDIK.COM terkait adab dan tata cara berdoa yang dianjurkan dalam ajaran Islam.
Menurut Subardi, doa harus diawali dengan rasa syukur dan pujian kepada Allah. Seseorang perlu mengakui nikmat yang sudah diterima sebelum menyampaikan permohonan baru.
“Jangan langsung meminta. Awali dengan syukur. Itu bentuk adab kita kepada Allah,” ujar Subardi.
Ia menegaskan, doa bukan sekadar menyebut angka atau target materi. Permintaan boleh spesifik, termasuk soal pelunasan hutang atau rezeki dalam jumlah besar, namun tetap harus dibingkai dengan kerendahan hati dan tawakal.

Keterangan Foto:
Subardi, SE berjalan di kawasan Jalan Malioboro, Yogyakarta, usai memberikan penjelasan kepada wartawan terkait adab berdoa agar lebih dekat dengan pengabulan.
Subardi menjelaskan, dalam kondisi memiliki hutang misalnya, seseorang dapat memohon kelapangan rezeki dengan cara halal dan baik. Ia juga mengingatkan agar permintaan besar tetap disertai kesiapan mental dan spiritual.
“Kalau Allah beri rezeki besar, harus siap amanah. Jangan sampai lalai,” katanya.
Terkait waktu, Subardi menyebut sepertiga malam terakhir, setelah shalat wajib, dan saat sujud sebagai momentum yang dianjurkan untuk memperbanyak doa.
Selain itu, ia mendorong umat Islam untuk menguatkan ikhtiar. Memperbanyak istighfar, menjaga shalat tepat waktu, bersedekah walau sedikit, serta menjauhi praktik riba menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Menurutnya, doa dan usaha tidak bisa dipisahkan. Konsistensi ibadah akan memperkuat harapan seseorang terhadap pengabulan doa.
Reporter : Rijen Senario
Editor : Kiki Juanda











