Ekbis

BBPJN Jawa Tengah–DI Yogyakarta Lakukan Peremajaan Jembatan Kewek, Perkuat Struktur dan Jaga Warisan Sejarah Kota Yogyakarta

2375
×

BBPJN Jawa Tengah–DI Yogyakarta Lakukan Peremajaan Jembatan Kewek, Perkuat Struktur dan Jaga Warisan Sejarah Kota Yogyakarta

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, abahtindik.com – Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DI Yogyakarta melaksanakan peremajaan Jembatan Kewek sebagai upaya menjaga kekuatan struktur sekaligus mempertahankan fungsinya sebagai salah satu penghubung utama di pusat Kota Yogyakarta. Penanganan ini dilakukan untuk memastikan jembatan tetap andal dalam mendukung mobilitas masyarakat serta menjaga keberlanjutan infrastruktur yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Pekerjaan dilakukan pada Jembatan Kewek yang memiliki panjang bentang 30,60 meter dengan lebar jalan 11 meter. Peremajaan tersebut menjadi bagian dari komitmen BBPJN Jawa Tengah–DI Yogyakarta dalam memperkuat infrastruktur jalan dan jembatan yang selama ini menopang aktivitas masyarakat di kawasan Kewek dan sekitarnya.

Tahapan konstruksi diawali dengan pengeboran fondasi borepile, dilanjutkan pemasangan rangka tulangan, kemudian pengecoran borepile. Fondasi tersebut dibangun untuk meningkatkan daya dukung jembatan sehingga struktur di atasnya menjadi lebih kokoh, stabil, dan mampu berfungsi dalam jangka panjang.

Selain pembangunan fondasi, pelaksana proyek juga mengerjakan pembangunan dinding penahan tanah (DPT) dan groundsill. Kedua struktur tersebut memiliki fungsi penting dalam menjaga kestabilan tanah di sekitar jembatan, memperkuat area konstruksi, serta melindungi pondasi dari potensi gangguan pada dasar maupun tebing Sungai Code.

Peremajaan ini dilakukan karena Jembatan Kewek bukan sekadar prasarana lalu lintas, melainkan juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah perkembangan Kota Yogyakarta. Jembatan tersebut dikenal sebagai penghubung strategis antara kawasan Kotabaru menuju Malioboro dengan melintasi Sungai Code.

Jejak sejarah kawasan Kewek telah ada sejak pembangunan jaringan kereta api dan Stasiun Lempuyangan oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij pada tahun 1872. Akses jalan yang melintasi Sungai Code kemudian dikembangkan pada dekade 1920-an agar perjalanan dari kawasan Kotabaru menuju Malioboro tidak lagi harus memutar melalui Jembatan Gondolayu.

Nama “Kewek” diyakini berasal dari pelafalan masyarakat terhadap istilah Belanda Kerk Weg, yang berarti “jalan menuju gereja”. Gereja yang dimaksud adalah Gereja Santo Antonius di kawasan Kotabaru. Sebutan tersebut kemudian melekat dan terus digunakan oleh masyarakat hingga sekarang.

Keberadaan Jembatan Kewek juga menjadi bagian penting dari penataan kawasan Kleringan dan ruang publik di sekitarnya. Pemerintah Kota Yogyakarta sebelumnya telah menyampaikan rencana revitalisasi kawasan tersebut agar lebih nyaman, bersih, serta tetap memiliki nilai strategis bagi masyarakat.

Melalui penanganan yang dilakukan BBPJN Jawa Tengah–DI Yogyakarta, Jembatan Kewek diharapkan tetap mampu mendukung konektivitas dan kelancaran mobilitas masyarakat. Penguatan struktur tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan salah satu penanda sejarah yang telah lama melekat pada wajah Kota Yogyakarta.

Editor: Respati
Sumber: BBPJN Jawa Tengah–DI Yogyakarta

Seluruh konten berita di abahtindik.com dilindungi hukum. Dilarang menyalin, mengambil, memproses, atau menggunakan konten—termasuk untuk AI—tanpa izin tertulis dari abahtindik.com.