ABAHTINDIK.COM | Lumajang — Harapan panen warga Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, mendadak pupus setelah banjir lahar Gunung Semeru menjebol tanggul hulu kanan Pelintas Gondoruso sepanjang kurang lebih 130 meter pada 30 Januari 2026.
Material lumpur dan batu menyapu lahan pertanian hingga menimbun sekitar empat hektare sawah produktif. Bagi para petani, bencana ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur, tetapi ancaman nyata terhadap sumber penghidupan mereka.
Sehari setelah kejadian, alur sungai masih dipenuhi sedimen tebal. Jalan penghubung desa berubah menjadi hamparan lumpur bercampur bebatuan. Aktivitas pertanian lumpuh total karena lahan tak lagi bisa digarap.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas langsung turun melakukan penanganan darurat. Saluran pelimpah yang tersumbat dibuka untuk mengurangi tekanan air pada tanggul yang tersisa. Penguatan sementara dilakukan dengan pemasangan bronjong batu sepanjang sekitar 150 meter guna menahan kemungkinan lahar susulan.
Penanganan melibatkan BBWS Brantas, PUSDA Jawa Timur, serta BBPJN Jatim–Bali. Selain memperbaiki tanggul, pemerintah juga berupaya memulihkan akses jalan warga yang terdampak.
Tanggap darurat dijadwalkan berlangsung hingga 28 Februari 2026. Namun bagi para petani Gondoruso, proses pemulihan lahan pertanian diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama sebelum sawah bisa kembali ditanami.
Sumber: BBWS Brantas | PU SDA Brantas











