Headline

Efek Kenaikan Avtur Pesawat Wisata Domestik Berpotensi Menurun

1334
×

Efek Kenaikan Avtur Pesawat Wisata Domestik Berpotensi Menurun

Sebarkan artikel ini

SURABAYA — abahtindik.com | Kenaikan harga avtur yang terjadi sejak awal April 2026 mulai memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata domestik. Lonjakan biaya operasional maskapai yang berpotensi mendorong kenaikan harga tiket pesawat dinilai akan mengubah pola perjalanan masyarakat secara luas.

Fenomena ini terlihat dari kecenderungan wisatawan yang semakin selektif dalam menentukan destinasi perjalanan. Harga tiket pesawat yang meningkat membuat moda transportasi udara tidak lagi menjadi pilihan utama, khususnya untuk perjalanan jarak menengah yang masih dapat dijangkau melalui jalur darat.

Di wilayah Jawa Timur, pelaku industri pariwisata mulai mengantisipasi potensi penurunan jumlah kunjungan wisatawan dari luar daerah. Destinasi yang selama ini bergantung pada akses penerbangan, seperti kawasan wisata Banyuwangi dan sebagian wilayah Malang Raya, diperkirakan menghadapi risiko penurunan kunjungan.

Sebaliknya, destinasi wisata berbasis akses darat diproyeksikan mengalami peningkatan. Kawasan wisata lokal yang dapat dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi darat dinilai lebih ekonomis di tengah kenaikan biaya perjalanan udara.

Perubahan pola mobilitas wisatawan ini tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga berpotensi memengaruhi perputaran ekonomi daerah. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada arus wisatawan diperkirakan akan menghadapi tekanan, terutama di wilayah yang mengandalkan wisata berbasis penerbangan.

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Aulia Hany Mustikasari, menilai kondisi ini memerlukan respons cepat dari pemerintah daerah. Ia menegaskan pentingnya strategi adaptif untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

“Kondisi ini harus diantisipasi dengan kebijakan yang mendorong wisata lokal dan memperkuat daya tarik destinasi berbasis akses darat. UMKM juga perlu didukung agar tetap bertahan,” ujarnya.

Selain intervensi kebijakan, pelaku industri pariwisata juga didorong untuk melakukan penyesuaian strategi. Langkah tersebut antara lain melalui penyusunan paket wisata yang lebih terjangkau serta promosi destinasi alternatif yang tidak bergantung pada transportasi udara.

Dari sisi perilaku konsumen, perubahan juga mulai terlihat. Wisatawan cenderung mengedepankan efisiensi anggaran dengan mengurangi frekuensi perjalanan atau memilih durasi liburan yang lebih singkat guna menekan biaya.

Jika tren ini berlanjut, struktur industri pariwisata domestik berpotensi mengalami pergeseran signifikan. Penekanan akan bergeser pada destinasi berbasis kedekatan geografis, aksesibilitas darat, serta biaya perjalanan yang lebih terjangkau.

Pemerintah pusat dan daerah diharapkan memperkuat koordinasi dalam merumuskan kebijakan yang responsif terhadap dinamika harga energi global. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi daerah.

Dok: abahtindik.com
Reporter: Ibnu Aji Sesario
Editor: Respati

Seluruh konten berita di abahtindik.com dilindungi hukum. Dilarang menyalin, mengambil, memproses, atau menggunakan konten—termasuk untuk AI—tanpa izin tertulis dari abahtindik.com.