HeadlinePendidikan

PGRI Tulungagung Perkuat Kompetensi Digital Guru, Dukung Target Sejuta Guru Mahir Koding dan AI

2557
×

PGRI Tulungagung Perkuat Kompetensi Digital Guru, Dukung Target Sejuta Guru Mahir Koding dan AI

Sebarkan artikel ini

PGRI Tulungagung memperkuat kompetensi digital guru melalui pelatihan koding dan AI untuk mendukung gerakan nasional satu juta guru mahir teknologi.

Tulungagung, Abahtindik.com – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Tulungagung memperkuat kompetensi digital tenaga pendidik melalui pelatihan PGRI Power di Kantor PGRI Kabupaten Tulungagung, Sabtu 17 Oktober 2026, sebagai bagian dari gerakan nasional menyiapkan satu juta guru mahir koding dan kecerdasan buatan (AI).

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program Pengurus Besar PGRI melalui PGRI Smart Learning and Character Center (PSLCC) yang bertujuan meningkatkan penguasaan teknologi serta kemampuan guru mengembangkan pembelajaran berbasis digital.

Program ini sekaligus mendukung percepatan literasi digital yang menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Ketua PGRI Kabupaten Tulungagung, Muhadi, menegaskan bahwa penguasaan teknologi bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan bagi tenaga pendidik untuk menghadapi perubahan sistem pembelajaran.

Menurutnya, perkembangan teknologi menuntut guru tidak hanya mampu menggunakan perangkat digital, tetapi juga memahami cara memanfaatkan koding dan kecerdasan buatan untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih inovatif.

Muhadi menjelaskan bahwa PGRI Power diarahkan untuk mengubah pola pikir tenaga pendidik dari pengguna teknologi menjadi pengembang media dan produk pembelajaran digital.

Perubahan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sekaligus mempersiapkan peserta didik menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.

PGRI Kabupaten Tulungagung juga mendorong keterlibatan guru-guru terpilih sebagai penggerak literasi digital di berbagai satuan pendidikan, mulai jenjang sekolah dasar hingga menengah.

Namun, informasi pelaksanaan program belum merinci jumlah peserta pelatihan, kuota guru yang ditargetkan, maupun jadwal kegiatan lanjutan di Kabupaten Tulungagung.

Belum dijelaskan pula mekanisme pendampingan dan evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur peningkatan kemampuan peserta setelah mengikuti pelatihan.

Kejelasan target tersebut menjadi penting agar kontribusi PGRI Tulungagung terhadap gerakan nasional satu juta guru mahir koding dan AI dapat diukur melalui capaian yang nyata.

Dari sisi peserta, pelatihan mendapat tanggapan positif dari seorang guru sekolah dasar asal Kecamatan Kedungwaru.

Peserta yang tidak disebutkan namanya tersebut mengaku sebelumnya menganggap koding dan kecerdasan buatan sebagai bidang yang sulit dipahami serta hanya diperuntukkan bagi guru teknologi informasi.

Setelah mengikuti pelatihan, ia menilai materi yang diberikan lebih mudah dipahami dan dapat diterapkan untuk membantu pembuatan media pembelajaran interaktif.

Pemanfaatan kecerdasan buatan dinilai dapat membantu guru menyusun bahan ajar, mengembangkan metode pembelajaran, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi siswa.

Pengalaman peserta tersebut memberikan gambaran awal mengenai manfaat pelatihan dalam memperkenalkan teknologi kepada tenaga pendidik dari berbagai bidang pembelajaran.

Meski demikian, peningkatan pemahaman selama pelatihan belum dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan program tanpa evaluasi terhadap kemampuan peserta menerapkan materi secara mandiri.

Keberlanjutan pendampingan juga menjadi faktor penting agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi praktik pembelajaran di sekolah.

PGRI Kabupaten Tulungagung berharap program PGRI Power mampu melahirkan tenaga pendidik yang memiliki kemampuan pedagogik, keterampilan digital, dan karakter yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan modern.

Melalui penguatan kompetensi tersebut, guru diharapkan dapat mengintegrasikan teknologi secara tepat tanpa mengabaikan peran utama pendidik dalam membimbing dan membentuk karakter peserta didik.

Keberhasilan program selanjutnya bergantung pada kesinambungan pelatihan, pengukuran capaian kompetensi, serta penerapan koding dan AI dalam kegiatan belajar mengajar.

Langkah tersebut menjadi penting agar gerakan nasional satu juta guru mahir koding dan AI tidak hanya berorientasi pada jumlah peserta, tetapi juga menghasilkan peningkatan kualitas pendidikan yang dapat dirasakan langsung oleh guru dan siswa.

Reporter: Endi S

Redaktur: Aris Setyoadji

Seluruh konten berita di abahtindik.com dilindungi hukum. Dilarang menyalin, mengambil, memproses, atau menggunakan konten—termasuk untuk AI—tanpa izin tertulis dari abahtindik.com.